"Dari Jawa ke Manado: Jejak Rantau Bayu"

Dari Jawa ke Sulawesi Utara 

Merantau dan Membaur di Tanah Minahasa

Merantau selalu mengajarkan hal-hal baru, tentang hidup, tentang manusia, dan tentang diri sendiri. Beberapa bulan lalu, saya memutuskan untuk meninggalkan kenyamanan kampung halaman di Jawa dan melangkahkan kaki ke tanah yang belum pernah saya pijak sebelumnya, yaitu Sulawesi Utara.

Awalnya, yang ada di kepala hanyalah, "Pasti sulit menyesuaikan diri." Tapi ternyata, Sulawesi Utara justru menyambut saya dengan hangat dan terbuka.

Budaya Baru, Cara Hidup yang Berbeda

    Saya dibesarkan dalam budaya Jawa yang lekat dengan unggah-ungguh (tata krama), bahasa yang halus, dan kebiasaan hidup yang cenderung tenang. Begitu tiba di Manado, saya langsung disambut oleh suasana yang lebih ekspresif, terbuka, dan penuh semangat.

    Di sini, orang bicara dengan suara keras bukan karena marah, tapi karena memang begitulah cara mereka menyampaikan rasa antusias dan kehangatan. Makanan mereka pedasnya "gak kira-kira", tapi penuh rasa dan dibuat dengan cinta. Di sisi lain, mereka juga punya adat dan tradisi Minahasa yang sangat kental, mulai dari cara menghormati leluhur hingga filosofi hidup yang menjunjung tinggi keberanian dan keterbukaan.

Toleransi Tinggi yang Membuat Saya Nyaman

    Satu hal yang membuat saya cepat membaur adalah tingkat toleransi yang sangat tinggi di sini. Di Sulawesi Utara, perbedaan agama dan budaya bukan hal yang menimbulkan sekat, tapi justru menjadi warna dalam kehidupan sehari-hari.

    Saya yang Muslim bisa beribadah dengan tenang, meski mayoritas masyarakat di sini beragama Kristen. Teman-teman baru saya selalu menghormati waktu salat, bahkan ikut mengingatkan. Dalam perayaan keagamaan atau acara adat, kami saling undang dan saling bantu. Tidak ada rasa canggung, tidak ada prasangka.

" Ini bukan hanya toleransi formalitas, ini toleransi yang hidup dalam praktik keseharian."

Membaur Tanpa Kehilangan Jati Diri

    Saya belajar banyak di sini, bahwa membaur bukan berarti melebur dan kehilangan identitas. Saya tetap dengan budaya saya, tetap menyapa dengan "monggo" dan "nggih", tapi saya juga mulai bisa mengatakan "marijo" dan "so nda papa" dengan santai.

    Di pasar, di tempat kerja, di warung kopi, semua orang terbuka untuk ngobrol. Masyarakat Minahasa punya cara unik dalam menjalin relasi, cepat akrab dan tidak membeda-bedakan. Itu membuat saya merasa diterima, bukan sebagai "orang luar", tapi sebagai bagian dari mereka.

Merantau Itu Tentang Bertumbuh

    Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa merantau bukan hanya tentang mencari penghidupan baru, tapi juga tentang memperluas pemahaman kita terhadap dunia. Di luar zona nyaman, kita justru bisa menemukan rumah kedua.

" Dan Sulawesi Utara, dengan segala perbedaan dan kehangatannya, telah menjadi salah satu rumah itu bagi saya."


Ditulis oleh:

@BayuGatra

Penjelajah rindu, pencatat langkah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Sejauh Apa pun Melangkah, Kampung Halaman Selalu Menjadi Tujuan”

Tetap Berbuat Baik, di Manapun Kita Berpijak